BUKAN SEORANG PEMIMPI BIASA

Malam nan sunyi di halaman rumah yang terasa telah sedikit lebih luas, 
butiran es yang bercucuran dari wadah gelas yang transparan menemani si pemimpi untuk menghasilkan sederetan karya yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Rangkaian huruf demi huruf telah menguras energi para jari-jari yang masih nyaman dengan ukuran kurusnya. 

Tatapan penuh harap si pemimpi berharap mimpi-mimpinya menjadi kenyataan. Tidaklah mudah mewujudkannya, ya logika yang berbicara, namun perasaan pun berbicara hal itu sangatlah "mudah" untuk diwujudkan. Banyak hal tak terduga yang telah dirasakan oleh si pemimpi, ya itulah kuasa Illahi, dia pun hanya bisa berusaha dan berdoa namun tetaplah takdir telah tertuliskan. Bagaimana dengan nasib ? 
"Apakah nasib sama dengan takdir atau sesuatu yang berbeda dengan takdir ?"

Si pemimpi pun mulai berpikir, mencari jawaban akan 2 pertanyaan tersebut. 17 bulan, 5 bulan adalah sederetan takdir waktu yang telah terjadi dan di atur oleh Sang Illahi.  Namun apa yang "ada" di dalam sederetan takdir waktu tersebut ?
Pertanyaan yang membuat si pemimpi mulai kegirangan akan titik cerah dari 2 pertanyaan yang telah ada di dalam benaknya. Ya, kejadian-kejadian di dalam takdir itu sendirilah yang dikatakan sebagai nasib oleh sang pemimpi, kejadian-kejadian perubahan dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mungkin menjadi mungkin. 2 pernyataan yang secara tidak sadar telah merubah nasib sang pemimpi sesuai dengan takdir yang telah digariskan oleh Sang Illahi untuk seorang pemimpi yang "Bukan Seorang Pemimpi Biasa".

Tulisan singkat yang berawal dari mimpi
Senin malam, 5 februari 2018
Di halaman salah satu rumah tua di kota Padang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

17 BULAN